Opor Ayam Tak Pernah Bertanya Kapan Menikah

Table of Contents
Opor Ayam Tak Pernah Bertanya Kapan Menikah
Opor Ayam Tak Pernah Bertanya Kapan Menikah/Google Flow

Tepat 30 hari puasa sudah kita lewati, artinya Lebaran segera datang. Apakah kalian bahagia dengan datangnya Lebaran? Saya? Ya, bahagia!

​Idul Fitri bukan sekadar ritual vertikal antara manusia dengan Tuhan, tapi sebuah perayaan kultural klasik yang sanggup menghentikan denyut nadi kesibukan demi saling bermaaf-maafan. Namun, di sela gema takbir dan wangi baju baru, ada satu momok yang lebih menakutkan daripada sekadar dompet yang bokek: pertanyaan klasik "Kapan nikah?".

​Bagi kita yang masih asyik sendiri—atau barangkali belum bertemu jodoh yang pas—pertanyaan itu bak film horor tahunan. Muncul tanpa rumah produksi yang jelas. Bisa dari mulut keluarga, saudara, hingga orang yang baru pulang merantau yang mungkin nama lengkap kita saja mereka lupa.

​Nikah itu bukan lomba lari, kan? Tapi di hari Lebaran, entah kenapa semua orang mendadak merasa punya hak jadi wasit di garis finis kehidupan kita. Kultur "urip" kita yang komunal sering menganggap pertanyaan itu sebagai basa-basi tanda perhatian. Tapi bagi yang ditanya, rasanya kayak makan opor ayam dengan sambal tiga sendok: pedas dan bikin keringat dingin.

​Seolah-olah, ibadah puasa Ramadhan kita baru sah kalau sudah ada buku nikah di tangan. Padahal, urusan jodoh kan sudah ada "protokoler"-nya sendiri di langit sana.

​Lalu bagaimana cara menghadapinya? Saya biasanya punya dua jurus. Pertama, gaya politis: "Masih belum dapat jatah kursi." Kedua, gaya agamis: "Mohon doanya saja supaya segera daftar ke KUA."

​Tapi jawaban paling ampuh tetaplah tersenyum sampai otot wajah pegal, sembari terus melahap opor ayam atau kue nastar. Karena sungguh, opor ayam tak pernah bertanya kapan saya menikah; ia hanya memberikan kehangatan santan yang jujur dan penerimaan yang tulus di lidah tanpa menghakimi status saya.

​Lebaran seharusnya tetap jadi hari kemenangan. Kemenangan melawan hawa nafsu, dan tentu saja, kemenangan melawan ego untuk tidak balik bertanya hal yang sama sensitifnya kepada mereka.

​Idul Fitri adalah tentang memaafkan—termasuk memaafkan rasa penasaran orang lain yang kadang bikin jengkel. Biarkan kita damai dengan piring dan opor ayam saja. Selamat merayakan Lebaran tanpa beban, selamat menikmati Idul Fitri tanpa tapi.

​Mohon maaf lahir dan batin.

6 Syawal 1437 H